qencani_belahan_jiwa

Belahan jiwa: Sebuah mahakarya yang haram dicintai selamanya

Tapi kan, belahan jiwa itu menggairahkan...

Katanya, belahan jiwa adalah pasangan sempurna, sebuah mahakarya ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Dan rata-rata, memang sosok seperti itulah yang jadi buruan banyak orang.

Saking buronnya, sampai-sampai umpatan macam “kapan ya aku ketemu belahan jiwaku?” menjadi sangat latah di lingkungan kita.

Tapi, sayangnya, belahan jiwa hanyalah sebuah cermin:

  • Orang yang menunjukkan semua hal yang menghambatmu.
  • Orang yang menuntun kamu memperhatikan diri sendiri.
  • Dan orang yang mampu mengubah hidupmu menjadi lebih baik lagi.

Bisa jadi, ia adalah orang paling penting yang pernah kamu temui. Bisa jadi, ia adalah satu-satunya orang yang sanggup menyadarkanmu dari prasangka halu di sana-sini.

Tapi harus hidup dengan belahan jiwa?

Tidak. Atau lebih tepatnya, jangan.

Why? Mengapa?

Sebab, ‘tugas’ sang mahakarya sebatas merobohkan egomu, menunjukkan masalah-masalah hidupmu, menghancurkan hatimu supaya kamu sadar, dan membuatmu begitu putus asa yang pada akhirnya itu akan mengubahmu menjadi lebih baik.

Kewajiban seorang belahan jiwa hanyalah sebatas membantu menemukan dirimu yang sebenarnya, kemudian pergi.

Bukan menikah lalu kelon setiap malam melahap mie instan bersamamu setiap pagi. Percayalah, belahan jiwa tak berbakat bersikap seromantis itu.

Belahan jiwa vs teman hidup

Sampai di sini, mau ga mau kita harus bersua dengan istilah lain, yaitu teman hidup.

Meskipun 11 12, belahan jiwa dan teman hidup adalah dua figur yang sangat berbeda. Artinya, kalau beruntung, kamu akan dihadapkan pada dua sosok yang berbeda dalam hidup; belahan jiwa dan teman hidup.

Untuk kehidupan jangka panjang yang rekah berbunga-bunga, teman hidup adalah pilihan tepat karena akan memaksamu jadi pribadi yang lebih baik.

Sedangkan di sisi lain, belahan jiwa punya banyak kesamaan denganmu. Kalian bahkan bisa saling memahami pikiran masing-masing.

Masalahnya, ketika sudah jumawa karena sukses menemukan belahan jiwa, lama kelamaan kamu akan sadar kalau hubungan yang kalian jalani itu tidak akan berlangsung lama.

Kamu memang merasakan adanya cinta, tapi disaat yang bersamaan, kamu juga merasa kurang nyaman dengan hukum ketidakkekalan hubungan itu.

Teman hidup berbeda.

Ia adalah orang yang bisa jadi tidak punya banyak kesamaan denganmu, tapi sangat bisa diandalkan sebagai tempat bersandar dan selalu bisa membuatmu nyaman.

Seorang teman hidup, biasanya tidak mau terjebak dalam ketidakpastian. Dia adalah sosok tak sempurna yang siap membawa hubungan ke jenjang yang lebih haqiqi, yaitu pernikahan.

Ia tak peduli kamu makan bubur dengan cara diaduk atau tidak diaduk. Ia tak akan menciptakan drama ketika kamu melahap mie instan dengan atau tanpa nasi.

Selama kamu yakin bahwa tubuh tetangga tidak lebih hangat dari tubuhnya, ia akan selalu mencintai.

Perbedaan mendasar

Intinya, teman hidup adalah sosok yang selalu mendukungmu. Seorang pendengar yang baik, bisa dipercaya, dan tidak suka memaksa ala video ber-genre hardcore. *eh.

Seorang teman hidup senang berbagi semua hal. Yang istimewa, kebahagiaanmu adalah kebahagiaannya juga.

Teman hidup akan bersedia membangun hubungan yang kuat bersamamu. Meski jiwamu dan jiwanya mungkin tak punya hubungan sekuat belahan jiwa, tapi tetap ada rasa percaya, pengertian, dan saling menghormati.

Teman hidup lebih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanmu yang sungguh absurb itu. Teman hidup, adalah orang yang kamu cintai dan rela kamu rawat sampai akhir hayat.

Lebih lanjut, ini perbedaan mendasar yang semoga membuat kamu paham mana belahan jiwa dan mana sosok teman hidup:

Ini belahan jiwa:

  • Kalian punya cara berpikir yang sama dan bisa saling memahami.
  • Kemungkinan kalian juga punya kekurangan yang sama.
  • Kalian menjalani hubungan dengan sangat intens.
  • Tetap terhubung biar pun kalian tak saling berdekatan.
  • Kamu mengalami perubahan hidup saat bertemu dengannya.
  • Hubungan yang kalian jalani penuh cinta, tapi tak berlangsung lama.

Dan ini teman hidup:

  • Kalian punya ketertarikan secara fisik.
  • Kalian menikmati masa pengenalan satu sama lain.
  • Sama-sama mau belajar memahami perbedaan diantara kalian.
  • Kalian bersikap seperti teman dekat.
  • Hubungan kalian dibangun berdasarkan logika dan kemauan berpikir.
  • Kalian sama-sama stabil dalam hal keuangan emosional.
  • Kalian merasa perlu menikah dan membangun sebuah keluarga.

Dari penjelasan di atas, maka jelas kalau saat ini kamu sudah berjumpa dengan seseorang yang menawarkan kepastian pun kehangatan, seharusnya kamu tak perlu lagi sangsi apakah dia belahan jiwamu atau bukan.

Yang jadi PR-mu sebenarnya adalah, memastikan apakah dia mau jadi teman hidupmu atau tidak. Dalam hal ini, usaha ekstra sangat dibutuhkan.

Karena layaknya teman kelas, dia juga punya banyak teman yang siap mengajaknya makan dan hepi-hepi sepulang sekolah. Dengan tanpa kamu, tentu saja.

Saya Amanes Marsoum, salam.