qencani_derita_duda

Derita duda: Kurang gizi dan nol persen asupan susu setiap hari

Mustahil kita melihat slogan "Pemburu Duda" di bokong truk muatan yang semok itu. Kalau "Pemburu Janda" banyak...

Menyingkap derita duda tentu kurang afdhol kalau kita tidak menyingung pokok penyebabnya, apalagi kalau bukan drama penuh sandiwara bernama menikah.

Menikah—dengan segala kerumitan budaya dan printilannya—demi membangun rumah tangga yang harmonis, bahagia dan sejahtera, tentu menjadi kemaslahatan kita bersama.

Menikah pun merupakan bentuk junjungan tinggi kita pada agama, norma dan negara.

Tapi, sayangnya, ekspektasi tinggi akan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah tampaknya masih menjadi misteri karena banyak terkendala dalam pencapaiannya.

Resepsi yang digelar dengan penuh kemeriahan, menghabiskan banyak sekali biaya, tak jarang berakhir dengan menyedihkan: sebatas membahagiakan tamu undangan yang datang berpakaian batik dan menjinjing amplop kosong di tangan.

Well, saya tidak ingin meneruskan tulisan ini dengan bahasan yang semakin tragis. Toh hidupmu sudah mendrama sekali kan, Mas Karjo?

Saya hanya akan menegaskan bahwa hidup yang sedang kamu jalani saat ini benar-benar amat sangat mengenaskan.

Derita duda (ternyata) meng-over lap derita janda

Janda—sebagaimana status sosial yang disandang oleh lebih dari 200 ribu wanita di Indonesia—adalah berkah bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Bagaimana tidak, janda merupakan puncak inspirasi tertinggi dari lahirnya seni dan kreativitas anak-anak bangsa.

Tanpa janda, kita tidak akan melihat sinetron yang menasbihkan tokoh janda sebagai protagonis sesungguhnya.

Tanpa janda, ranah musik dangdut hanya akan dijejali oleh tema-tema yang itu-itu saja. Kalau bukan suami-istri ya yang-yangan.

Dan tanpa janda, kita tidak akan pernah tersenyum geli menyaksikan bokong truk muatan bertuliskan “Pemburu Janda,” “Antar Janda Dalam Kota,” dan yang semacamnya.

Dengan semua kenikamatan batiniah itu, bisa dibilang janda adalah sosok pemersatu bangsa.

Bagaimana dengan duda?

Percaya atau tidak, para aktivis duda sangat rentan terhadap kematian. Persentasenya mengerikan: dua kali lebih tinggi daripada janda.

Miris? Tentu saja.

Tapi, jelas ada alasan mengapa kaum duda harus menerima nasib semengenaskan itu.

Secara umum, duda mudah terjerumus dalam gaya hidup yang tak sehat.

Selain kurang mengonsumsi buah dan sayuran, mereka (ingat, mereka, bukan saya) juga cenderung kurang gizi karena terlalu jatuh hati pada mie instan dan tak pernah mendapat asupan susu setiap hari—tak seperti dulu manakala masih beristri.

Kehidupan per-mie instan-an mereka pun bisa membuat siapa pun yang melihat harus meneteskan air mata.

Ini contoh kecilnya.

Semua sudah siap. Semangkuk mie instan rebus dengan TANPA telur dan irisan cabe rawit plus irisan pete. Polos.

Hmmm… nyam-nyam! Baunya, kata juru masak Rahung Nasution: “biadab!” Sementara itu, air liur jelas sudah begitu menggenang di mulut.

Tapi sabar, Mas Karjo. Siapkan dulu segelas minuman hangat, agar usai makan langsung bisa disempurnakan dengan seruputan yang luar biasa nikmat.

Ketika segelas teh hangat sudah siap, sendok dan garpu sudah mulai menari membolak-balik mie instan… Plung!

“Apa ini? Hitam kecil?”

Lihat ke atas, ke langit-langit, ada cicak. “Biadab!”

Sambil gigi kerot-kerot menahan amarah, solusinya: dibuang! Mie instannya yang dibuang? Bukan!

Lalu?

Ya tai cicaknya, dong!

Nah, perilaku absurd yang awam di kalangan duda seperti itu, sangat jarang ditemukan pada janda dan atau sepasang suami-istri.

Di sinilah derita duda terlihat jelas. Di sinilah peran penting seorang istri perlu digarisbawahi.

Sebagai seorang wanita, istri cenderung suka mendorong perilaku hidup sehat untuk suami dan anak-anaknya.

Nah, ketika sosok istri sudah tak ada lagi, maka lumrah kalau resiko kematian duda pun meningkat tajam. Setajam silet kalau Estherlita Corraima bilang.

Alasan lain adalah dukungan moral.

Seorang duda cenderung pasif dalam hidup bersosial sehingga kurang menerima bantuan dari sesama.

Meskipun janda, seorang wanita tetap menganggap bahwa bersosial adalah hal yang penting. Lagi-lagi, aktivis janda menang telak atas penggiat duda.

Itulah mengapa, menurut saya, sangat penting bagi kita untuk selalu memberi dukungan moral pada mereka yang harus menerima nasib sebagai duda agar semakin ke sini, derita duda semakin mudah ditanggulangi.

Tanpa bantuan dari orang-orang sekitar, mereka akan terus menderita secara psikis, yang berlanjut pada buruknya kondisi kesehatan dan tampang.

Jadi, pelis… jangan pernah menertawakan duda, apalagi sampai membenci mereka. Alih-alih seperti itu, yang harus kita lakukan adalah melakukan yang terbaik untuk mereka.

Entah itu dengan rutin mengajak ngobrol—tanpa sambil makan mie instan, atau berbaik hati merekomendasikan beberapa wanita yang mungkin tepat menjadi istrinya.

Wanita lajang atau janda?

Terserah. Yang penting, wanita itu bisa menjamin asupan susu si duda tercukupi.

Saya Amanes Marsoum, salam.

avatar