qencani_jual_mahal

Dek, napa sih kamu jual mahal mulu kayak emas batangan gitu?

Jelek tau...

Kalau dipikir-pikir, kaum Hawa itu aneh.

Mereka suka sekali dengan yang namanya diskon, korting, potongan harga, atau apalah istilahnya. Dengan pikiran sangat sadar, mereka rela membeli kuota seharga 50 ribu demi bisa berebut satu item syantik yang harganya turun 5 persen, atau kalau dirupiahkan, sekitar 10 ribuan saja.

Intinya, wanita itu suka barang mahal, tapi harganya wajib dimurahkan. Bingung, kan? Sama, saya juga.

Di sisi lain, tepatnya dalam ranah cinta-cintaan, mereka kudu harus wajib jual mahal. Tak ada yang namanya potongan durasi membalas chat, apalagi harus ngasih diskon jutek.

Pokoknya, bagi kaum feminis itu, siapa pun pria yang mendekati harus sadar, memahami, dan mengakui kalau mereka adalah emas batangan 1 kg bertuliskan “FINE GOLD 999,9” dan berlogo Antam: muahal.

Inilah paradoks kewanitaan yang membuat banyak ilmuan mati di usia dini.

Well… ritual jual mahal memang sudah membudaya sedemikian lama. Budaya nyeleneh ini juga yang akhirnya menelurkan prinsip hidup bahwa wanita jangan sampai mengejar pria. Apapun yang terjadi, tak peduli Thanos menjentikkan jari, biar si pria yang mengejar pujaan hati. Titik!

Tapi, apa iya sih prinsip itu tak bisa dibengkokkan barang setengah mili?

Karena begini, Mbak Sri, misal kamu baru saja mengenal seorang pria pas kalian sama-sama antre di toilet. Ndilalah, tumbuhlah perasaan suka sama suka, bunga-bunga cinta mekar dari lubang hidung dan telinga.

Tapi karena harus menerapkan prinsip jual mahal tadi, kamu memilih untuk menahan diri. Kamu sibuk menunggu padahal hati tak sabar, sementara dia terlalu bodoh dalam hal membaca kode wanita.

Nah, dalam kondisi ambigu seperti itu, apa kamu akan terus diam sambil berharap dia cepat-cepat menyatakan cinta? Padahal logikanya, kalau sebongkah hati sudah tertambat cinta, mengapa harus repot-repot menunggu jadwal penerbangan berikutnya?

Nah kan…

Taktik kawin ala hewan

Setelah semedi selama 7 x 24 jam, akhirnya saya mendapat pencerahan mengenai taktik jualan yang mustahil diterapkan para online markerter ini.

Menurut saya, setidaknya ada dua alasan kuat mengapa seorang wanita memilih jual mahal di awal-awal hubungan:

  • Pertama, agar pria lebih menginginkan dia, sekaligus sebagai pembuktian diri bahwa dia laku.
  • Alasan kedua, adalah untuk menguji seberapa besar minat seorang pria pada dirinya, termasuk dalam hal ini, keinginan untuk berkomitmen membangun hubungan.

Dua alasan di atas, persis seperti taktik yang diterapkan hewan betina, dimana ia menciptakan kesan tak tertarik agar pejantan makin penasaran.

See… wanita itu benar-benar lihai, ternyata.

Prinsip kelangkaan

Sekarang, mari kita kaitkan aksi jual mahalnya wanita dengan fenomena sosial dimana orang yang sulit didapat justru lebih menarik perhatian rakyat ketimbang mereka yang cenderung mudah didapat.

Mengapa?

Sebab mendapatkan orang yang sulit didapat itu jauh lebih menantang. Pria, jelas suka sekali tantangan. Klop! Inilah bug dari kaum Adam yang berhasil dieksplorasi oleh kaum Hawa dengan sangat manis.

Sementara dari kacamata psikologi, jual mahal adalah permainan pikiran.

Seorang wanita akan menjadikan dirinya langka, unik, spesial, dan limited-edition sehingga tak ada alasan bagi pria mana pun untuk tidak mengejarnya. Menurut Henry Murray, ini adalah taktik jual mahal terbaik di alam semesta.

Eh, tapi jangan salah…

Pria juga sering jual mahal kok. Motifnya sama seperti jual mahalnya wanita, yaitu untuk menguji kelemahan dan kekuatan calon pasangan. Hanya saja, metode yang digunakan berbeda.

Sementara wanita cenderung diam tapi pengen alias malu-malu singa, pria lebih biadab dengan memancing rasa cemburu calon pasangannya.

“Jadi, Kisanak, jual mahal itu harus ga sih?’

Jawabannya relatif, karena jual mahal harus disesuaikan dengan momen Lebaran banyak faktor.

Bagi wanita, jelas, jual mahal berarti waspada agar tidak terjebak dalam hubungan yang salah, pria yang salah. Sementara bagi pria, jual mahal artinya memperlihatkan sisi misterius agar wanita lebih tertarik.

Tapi hati-hati, jual mahal yang digunakan pada waktu yang salah, pada orang yang salah, dan dengan cara yang salah justru bisa jadi bumerang.

Intinya, jual mahal itu bid’ah hasanah, asal dilakukan dengan tepat dan bertanggung jawab.

Dan kalau riwayat cintamu adalah 9 kali di-PHP dan 4 kali ditikung teman bahkan sebelum jadian, ya jangan sok jual mahal banget gitu ah.

Emang belum bosan ya ditanya “kok masih jomblo aja, Dek?”

Saya Amanes Marsoum, salam.