qencani_makan_di_mana

Solusi konflik “makan di mana?” yang wagu dan meresahkan warga itu

Salah satu hal yang membedakan antara manusia dan kura-kura adalah selera tempat makan.

Mungkin kamu belum tahu kalau kura-kura adalah spesies penyuka sayuran, buah-buahan, ikan, dan juga daging. Mirip sekali dengan manusia.

Saking miripnya, keduanya juga pemakan cacing. Bedanya, cacing bagi si kura adalah keinginan. Sedangkan bagi manusia merupakan kebutuhan mutlak ketika tipus meradang.

Nah, di saat seekor kura-kura jomblo begitu enjoy melahap santapannya di padang rumput, hutan, rawa, sungai, laut, dan bahkan gurun, sepasang manusia sering gagal menunaikan ibadah makan malam hanya karena pertanyaan wagu “makan di mana?”

Ya, adalah benar tesis yang mengatakan bahwa makan di luar merupakan kenikmatan luar biasa karena bisa menyantap hidangan lezat dalam balutan suasana yang berbeda.

Tapi sebelum itu, pasti, yang wajib dipikirkan adalah memutuskan mau makan apa dan di mana.

Fase krusial inilah yang tak jarang membuat sepasang kekasih bersimpah darah karena sudah harus berantem duluan. Apalagi, bagi mereka yang pacarannya sudah memasuki masa tenggang.

Siapa yang paling salah dalam konflik “makan di mana?”

Entah pasangan mana yang dulu memulai, tapi fenomena adu argumen perihal makan di mana sudah terlanjur awam di semesta cinta.

Apa pun itu, sebaiknya kamu jangan latah menyalahkan pasangan karena kebetulan ada orang lain perbedaan selera makan dan selera tempat makan di antara kalian.

Sebab, situasi awkward seperti ini ternyata ada kaitannya dengan psikologi manusia.

“Maksudnya gimana, Kisanak?”

Begini… salah satu hal yang paling masuk akal untuk menjelaskannya adalah, kita cenderung punya terlalu banyak pilihan sehingga bingung harus memilih yang mana. Akibatnya, muncul kondisi paralisis analisis atau kelumpuhan menganalisa.

Paralisis analisis bisa juga disebut paradoks pilihan. Sadar atau tidak, kita sering berasumsi bahwa lebih banyak pilihan berarti lebih banyak kebahagiaan.

Padahal faktanya, banyak pilihan justru merugikan kebahagiaan. Masalah akan muncul justru ketika kita memikirkan banyak hal yang sepertinya bagus.

Kondisi ini juga berlaku manakala kita memilih calon pacar dan atau calon konco kelon.

Oleh sebab itu, Mas Karjo, Mbak Sri, solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik batin makan di mana harus segera ditemukan. Secepatnya, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Terkait urgensi ini, sejauh pemahaman saya yang seorang lulusan SMK jurusan Teknik Perkakas ini, ada dua metode jitu untuk mengenyahkan konflik makan di mana dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamanya.

Yang pertama, metode 5-3-1

Bukan 2-3-4 ala Dji Sam Soe ya, tapi 5-3-1.

Ini, merupakan metode tiga langkah mudah untuk memilih dan memilah tempat makan sekaligus menentukan menu yang paling cocok. Begini cara kerjanya:

  1. Beri pacarmu lima pilihan tempat makan sekaligus menu makanannya.
  2. Biarkan dia memilih tiga tempat yang paling dia suka.
  3. Dari tiga pilihan itu, pilih satu tempat yang paling pas berdasarkan minat dan isi dompetmu.

Metode ini setidaknya punya dua kelebihan. Pertama, hasilnya sama-sama enak. Yang kedua, kamu tidak perlu repot-repot pergi ke dapur untuk kerja rodi mencuci piring.

Aturan 70 persen

“Apa lagi ini, Kisanak? Diskon 70 persen?”

Ya jelas bukan… Lagian, mana ada tempat makan yang ikhlas ngasih potongan harga 70 persen untuk orang bertampang diskon seperti kamu.

Meskipun agak dipaksakan, aturan 70 persen adalah metode yang sangat membantu saat kamu harus memutuskan sesuatu. Bahkan secara langsung, aturan ini bisa meredam paralisis analisis.

Intinya, kalau 70 persen kamu senang dengan sebuah pilihan, segera ambil pilihan itu.

Sadar ga sih? Kamu tuh sering kesulitan menentukan pilihan karena menginginkan satu saja yang paling sempurna. Kalau milih ini, siapa tahu yang itu lebih baik. Kalau milih yang itu, bisa jadi justru yang ini lebih baik.

Akhirnya kamu malah tidak jadi milih apa-apa. Jadinya jomblo terus gitu. Atau kalau memilih, biasanya keputusannya kurang memuaskan. Kurang sayangable, misalnya.

Benar?

Menimbang pilihan untuk mengambil keputusan memang penting. Tapi, kita juga harus menerima fatwa dan fakta bahwa beberapa kesalahan sudah pasti ada. Toh pada akhirnya, memang tidak ada yang sempurna kan?

Daripada kelamaan memilih, yang 70 persen baik bisa jadi memang yang terbaik. Yang 70 persen enak bisa jadi memang yang terenak.

Dan yang 70% mau kamu ajak menunaikan ibadah makan malam tanpa perlu drama makan di mana, bisa jadi hobinya memang makan di sini dan makan di sana.

Bersama kamu dan bersama dia. Ea…

Saya Amanes Marsoum, salam.

avatar