qencani_mantan_yang_baik_hati

Jadi mantan yang baik hati di tengah fluktuatif-nya ranah hubungan

Jadi mantan yang baik dulu, balikan kemudian

Saya akan bicara terus terang.

Apapun alasannya, tidak semua spesies bernama mantan itu bajingan. Bagaimana pun situasi dan kondisi negeri yang kita cintai dengan harapan kuota internet semakin murah meriah sepenuh hati ini, selalu berseliweran mantan-mantan yang baik hati.

Jadi, sudahlah… jangan terlalu kebawa emosi hanya karena putus lalu menganugerahi mantan dengan sepaket nama hewan.

Sadarlah, Sri, itu ga baik untuk eksistensi progam dietmu.

Karena bagaimana pun, selalu ada alasan mengapa sebuah hubungan harus putus di tengah jalan.

Entah karena fenomena langka seperti unboxing Scoopy, atau karena pertanyaan remeh macam “makan di mana?” yang berujung pada adu mulut dan baku hantam di bahu jalan, yang ujug-ujug jadi tontonan banyak orang.

Atau, karena ada beda pendapat soal pilihan capres.

Apapun itu, yang jelas, putus cinta adalah masalah klasik yang mungkin paling menyakitkan dalam hidup.

Mungkin sakitnya melebihi dongkol karena telat gajian, mewek karena dipecat atasan, dan atau misuh-misuh sebab tak kunjung lulus ujian.

Tapi percayalah, putus cinta bukan akhir dari segalanya. Karena faktanya, kaum jomblo masih bertebaran di mana-mana.

Artinya, kamu tak perlu jadi bajingan pasca putus cinta, karena selalu ada cara untuk menjadi sosok mantan yang baik hati, sebenarnya.

Dengan menjadi sosok mantan yang baik hati, kamu bukan hanya bisa cepat keluar dari jurang kejombloan, tapi juga punya peluang besar untuk segera balikan. Nah kan…

Lantas, bagaimana caranya?

Pertama, jangan pernah mengerjar mantan

Di mata teman, keluarga, dan orang-orang tersayang, perjuangan dan kegigihanmu bisa saja diacungi jempol.

Tapi dari perspektif lain, apa yang kamu lakukan itu bisa jadi boomerang. Mantanmu bisa ilfeel karena intensitas mengganggumu sudah berada di level Awas.

Ini bukan perihal siapa yang salah dan siapa yang (merasa) benar. Ini bukan soal siapa yang antagonis dan protagonis dalam adegan putus sebelumnya.

Ini, adalah murni soal tenggang rasa, soal menghormati keberagaman perasaan, dan soal bagaimana kamu mengamalkan sila ke-2 Pancasila.

Toh, pedihnya scene putus yang kalian perankan sudah amat sempurna. Jangan dipermanis lagi dengan drama yang ambigu.

Yang kedua, jangan kepo

Kenapa sih harus stalking? Apa gunanya tahu urusan mantan?

Ingat, kuota yang kamu hamburkan itu akan lebih bijak kalau dialokasikan untuk googling informasi yang berguna. ‘Siapa Menteri Kesehatan saat ini’, misalnya.

Sebab tidak ada yang bisa menjamin kamu akan kuat menjalani kejombloanmu itu. Dalam hal ini, mengetahui siapa figur yang paling bertanggung jawab atas kesehatanmu menjadi sangat penting.

Lagian, secapek apapun kamu memainkan jari, mustahil kamu akan menemukan iklan obat kuat di akun mantan.

Kecuali kalau dia distributornya.

Selanjutnya, ubah mindset-mu

Manusia paling baik dan menggairahkan di dunia ini bukan hanya mantanmu seorang.

Keluar dan carilah gebetan yang tipenya bertolak belakang. Meratapi nasib di ujung kamar tak akan bisa membantu. Semua guru PPKN (sekarang namanya apa sih?) pasti juga tahu ke-mudarat-an ritual se-alay itu.

Memahami mindset jomblo itu penting. Terlebih, kalau kamu benar-benar kebelet membangun hubungan lagi.

Berubah adalah langkah selanjutnya

Apalagi, kalau sifat atau perilakumulah yang jadi sebab hancurnya hubunganmu dengan mantan.

Kalau selama pacaran kamu kasar dan egois, berubahlah. Kalau kamu terlihat lemah dan mau disuruh-suruh, berubahlah.

Dan kalau kamu masih suka ngupil, belajarlah bagaimana cara ngupil yang elegan.

Memang tidak ada undang-undang yang mengatur, tapi tetap saja, ngupil merupakan salah satu hajat manusia paling urgent. Jangan hilangkan kebiasaan ini, cukup dimodifikasi saja caranya.

Yang terakhir, untuk bisa jadi mantan yang baik hati, kamu harus tulus

Tulus dalam hal apa? Dalam hal sakit hati?

Tentu tidak.

Kamu, hanya perlu memastikan kalau semua hal di atas dilakukan bukan atas dasar ingin membuat mantan menyesal, tapi murni karena kamu ingin jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pribadi yang baik hati, pribadi yang pantas pacaran lagi.

Soal kemudian kamu pacaran dengan tetangga atau balikan dengan mantan, itu urusan nomor sekian.

Urusanmu sekarang adalah, jangan baper melihat sepasang kucing yang seenaknya kawin di bahu jalan.

Sekian.

Saya Amanes Marsoum, salam.