qencani_membicarakan_pernikahan

Membicarakan pernikahan ternyata tak senikmat merindukan mantan

“Dik, apa kamu udah pengen punya anak?”

Dalam hubungan apa pun, akan ada saat dimana kita harus melakukan obrolan yang sulit bin mumet alias njelimet. Salah satunya, membicarakan pernikahan sepaket dengan resepsi dan keruwetan di dalamnya.

Tapi Kisanak, kapan sih waktu yang tepat untuk ngobrolin itu dengan pasangan?

Santai, Mas Karjo… santai… saya akan menjelaskan dalam panduan yang tidak bermutu dan sangat sangat tidak lucu ini.

Tapi sebelumnya…

Jawab dulu tujuh pertanyaan penting ini dengan jujur—tapi jangan seperti kejujuran yang kamu lakukan saat membayar tiga gorengan yang sudah kamu makan. Padalah aslinya enam.

  • Apa alasanmu ingin menikahi pasanganmu?
  • Mengapa sekarang adalah saat yang tepat untuk menikah? Apa ada yang berubah? Atau ada yang memaksamu untuk segera menikah?
  • Kamu berada dalam hubungan jangka panjang yang berkomitmen, hubungan jangka pendek, atau malah baru jadian?
  • Apa ada orang lain yang akan terkena dampak secara langsung dari keputusanmu itu?
  • Apa ada kepercayaan, harapan, atau faktor lain yang perlu kamu pertimbangkan (misalnya: usia, sosial, agama, budaya, keluarga)?
  • Apa kalian berdua sudah siap secara emosional, mental, dan stamina untuk hidup berumah tangga?
  • Apa kamu sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya (saat chatting, misalnya)?

Kalau sudah, simpan baik-baik jawabanmu tadi. Tulis di buku atau aplikasi notes kalau perlu. Kamu akan membutuhkan itu nanti. Serius.

Lanjut, Mas Karjo…

Kalau menurutmu membicarakan pernikahan bukan hal yang pantas di-drama-kan, maka membahasnya di awal hubungan adalah pilihan terbaik.

Kabar baiknya, ini akan menghindarkan kamu dari ke-mudarat-an bersama orang yang tidak punya visi hidup yang sama denganmu.

Kamu jadi tidak perlu menghamburkan uang di dompetmu yang tidak seberapa itu untuk orang yang salah.

Baru-baru ini, Zola mensurvei lebih dari 1.000 pengantin baru untuk mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan sebelum muncul pertanyaan “Dik, mau ga nikah sama Abang?”.

Hasilnya sangat mengejutkan:

  • 94% pasangan membicarakan pernikahan enam bulan sebelum benar-benar melakukannya.
  • Dan, 30% di antara mereka bahkan membahasnya setidaknya seminggu sekali.

Sampai di sini, mungkin kamu bertanya, “gimana aku bisa tau kalau hubunganku udah dekat dengan pernikahan?”

Untuk menjawabnya, kamu harus tahu di mana posisi hubunganmu saat ini. Kamu harus tahu hubunganmu berada di tahap mana.

Ini tahapan hubungan yang saya maksud itu:

Fase euforia

Idealnya, fase paling greget dalam hubungan ini berlangsung sejak hari pertama jadian hingga dua bulan kemudian.

Sebagian besar pasangan akan membicarakan pernikahan di fase ini. Tapi obrolannya tidak akan menjadi rencana matang untuk masa depan.

Yang ringan-ringan saja, sebagai prolog dari obrolan yang Wallahu A’lam.

Misalnya, “Dik, apa kamu udah pengen punya anak?” atau “apa sih pendapatmu soal nikah?”

Fase penyesuaian

Ini adalah masa dimana kamu menyadari kalau pasanganmu adalah manusia: punya kekurangan.

Kurang peka, kurang mapan secara finansial, atau tampangnya yang kurang mapan.

Alhasil, banyak pasangan yang hubungannya harus hancur di fase ini karena mereka tidak punya ikatan yang kuat.

Komunikasi yang terbuka, jujur, dan konsisten adalah kunci. Termasuk di dalamnya, obrolan serius tentang masa depan, kepekaan, dan kemapanan.

Fase koneksi

Juga dikenal sebagai fase persahabatan, tapi bukan persahabatannya Laskar Pelangi ya.

Di sinilah sebagian besar pasangan mulai membahas pernikahan dengan khusuk tanpa distorsi. Sebab, mereka berhasil menemukan ritme satu sama lain.

Di fase ini, kepercayaan telah terbangun. Kamu dan pasangan siap melangkah lebih jauh. Egoisme aku dan kamu telah bergeser ke kita. Cie…

Makan mie instan dengan atau tanpa nasi bukan lagi sebuah drama, menyantap bubur dengan atau tanpa diaduk tidak perlu lagi sampai memecahkan mangkuk penjualnya.

Alih-alih bersikap radikal seperti itu, salah satu dari kalian akan berinisiatif untuk memikirkan masa depan dan membuat rencana bersama. Memastikan impian, harapan, visi dan tujuan kalian berada di jalur yang sama.

Atau setidaknya, menuju ke arah yang sama. Sama-sama menyalakan lampu sein yang sama, tentu saja.

Tapi bagi pasangan yang belum juga menyinggung soal pernikahan di fase ini, bisa jadi karena takut terjadi salah paham.

Mereka khawatir kalau obrolan tentang masa depan justru disalahartikan sebagai bentuk tekanan untuk segera mengambil langkah berikutnya.

Fase perjuangan

Bisa dibilang, ini adalah fase paling kritis dari hubungan pacaran. Kamu mulai membandingkan hubunganmu dengan hubungan orang lain.

Dogma “rumput tetangga lebih hijau” benar-benar berlaku di sini.

Nah, kalau pernikahan sudah jadi prioritasmu, maka rasa khawatir karena belum juga bisa membicarakannya dengan pasangan akan berpotensi menghancurkan hubunganmu.

Hati-hati.

Fase stabil

Dari semua kemungkinan, di fase inilah sepasang kekasih akan benar-benar serius membuat komitmen satu sama lain.

Beberapa pasangan tidak pernah mencapai fase terakhir dari hubungan pacaran ini. Tapi bagi mereka yang bisa melakukannya, pasti punya lebih banyak rasa cinta, kepercayaan, dan koneksi satu sama lain.

Sekarang…

Setelah kamu tahu di fase mana hubungan yang sedang kamu jalani berada, seharusnya kamu lebih yakin harus membicarakan pernikahan sekarang atau nanti.

Tapi ingat, fase hubungan hanyalah panduan.

Artinya, bahkan kalau kamu sudah siap, belum tentu pasanganmu juga siap. Apalagi, kalau dia sudah kesengsem dengan yang hijau-hijau di halaman rumah tetangga.

Karena itu, ini dua hal yang harus kamu perhatikan:

Pikirkan masalah yang mungkin terjadi

Alternatif lain untuk membuat keputusan menikah adalah dengan melihat beberapa masalah yang sering muncul dari pernikahan dini atau pernikahan yang terlambat.

Karena bagaimana pun, salah satu bagian terpenting dari membuat keputusan besar dalam hidup adalah memikirkan pro dan kontra-nya. Maslahat dan mudharat-nya.

Make it fun!

Menurut Monica Martinez dari Gottman Institute, karena pernikahan bisa jadi topik yang sangat menakutkan, maka cara paling mudah untuk membahasnya adalah dengan memasukkan unsur kesenangan di dalamnya.

Buat obrolan itu benar-benar menyenangkan. Sembari main layangan, kalau bisa.

Dengan begitu, rasa takut, khawatir dan potensi terjadi salah paham akan hilang bersama layangan segi empat yang putus talinya.

Membicarakan pernikahan itu asyik kok

Jadi kesimpulannya adalah…

Tidak ada standar mutlak dan fatwa halal-haram soal kapan waktu yang tepat untuk ngobrol serius membicarakan pernikahan dengan pasangan.

Yang perlu di-stabilo adalah, hubungan merupakan jalan dua arah. Harus saling memberi dan menerima, saling berkomunikasi.

Memberi ruang orang terpenting dalam hidupmu untuk mengekspresikan perasaannya, itu sama pentingnya dengan ketika kamu yang harus bersikap terbuka padanya.

Apalagi, kalau sudah sampai pada pembahasan serius seperti masa depan hubungan.

Kesampingkan dulu soal kalian sama-sama makan mie instan pakai nasi atau tidak, abaikan dulu bubur yang kalian makan itu sama-sama diaduk atau tidak.

Perhatikan saja apakah dia mengenakan baju yang lebih hijau dari tetanggamu atau tidak.

Saya Amanes Marsoum, salam.