qencani_mindset_jomblo

Ini lho mindset paling wow yang harus dimiliki seorang jomblo

Hm, jomblo kok ngenes...

Semua orang terlahir jomblo.

Tapi, ngenesnya, tidak semua orang paham apa yang harus dan TIDAK boleh dilakukan di fase krusial ini.

Kok krusial, Kisanak?

Ya gimana ga krusial, Mas Karjo, kan baik atau buruknya hubungan pacaran, bahagia atau tragisnya ikatan pernikahan, sangat bergantung pada bagaimana seseorang menjalani fase ini.

Artinya…

…sukses atau tidaknya hubungan cinta yang kamu jalani sekarang nanti, sangat bergantung pada sukses atau tidaknya kesendirian yang kamu jalani saat ini.

Artinya, ngejomblo itu penting. Sangat penting malah. Karena bisa dibilang, ini adalah pondasi dasar dari semua fase cinta.

Bayangkan, level ke-penting-annya nyaris menyamai keimanan seorang hamba pada Tuhan-nya.

Tapi itu kalau kamu bisa menjalaninya dengan baik. Kalau tidak, ya percuma.

Kabar baiknya, saya akan memberi sedikit wejangan bagaimana seharusnya menjalani jomblo dengan baik dan benar, agar kamu siap membangun hubungan yang bahagia.

Tak peduli siapa pun yang nanti akan jadi pasanganmu.

Karena itu, teruskan membacanya. Duduk yang nyaman, siapkan teh dan camilan kalau perlu.

Gini, Mas Karjo…

Jadi orang yang benar-benar siap membangun hubungan itu sulit. Kalau tidak tahu caranya.

Faktanya, banyak orang buru-buru pacaran hanya karena kesal dibilang jomblo ngenes atau ga laku. Atau karena ingin dipuji “wah” oleh teman-temannya.

Akhirnya mereka asal-asalan memilih pasangan.

Apa akibatnya?

Jadian… putus… jadian… putus… begitu terus sampai Aang diompoli anak pertamanya.

Mengapa bisa begitu?

Karena mereka belum siap membangun hubungan cinta. Mereka benar-benar belum siap berbagi hati dan perasaan dengan orang lain.

Sekali lagi, mereka pacaran hanya karena nafsu yang menggebu terpaksa. Bukan murni atas dasar cinta.

Apa pun alasannya, kamu jangan latah seperti itu, Mas Karjo.

Tapi sebelum tehmu dikerubungi semut, ada satu hal yang harus saya sampaikan supaya kamu tidak salah paham.

Yaitu sejarahnya

Jomblo itu aib… hina…

Tapi itu dulu, sebelum tahun 1993. Lebih tepatnya, saat jomblo masih jomlo.

Ya, jomblo memang bukan asli bahasa Indonesia. Istilah ini berasal dari bahasa Sunda: jomlo (tanpa huruf b).

Menurut laman resmi KBBI, jomlo memiliki makna ‘gadis tua’.

Sedangkan ‘pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup’ adalah makna dari jomblo yang merupakan cakapan atau bentuk tidak baku.

Artinya, jomblo adalah bahasa serapan dan belum diakui oleh KBBI (bahasanya saja yang belum diakui, bukan jomblonya).

Tapi populer.

Saking populernya, hampir semua orang pernah mengucapkan istilah ini. Bahkan ada film dengan judul yang sama.

Kalau di Wikipedia, hasil pencariannya malah diarahkan ke laman bujangan.

Padahal jomblo dan bujangan itu jelas berbeda. Jomblo bermakna multi-gender, sedangkan bujangan hanya untuk pria saja. Kan lucu.

Jaman dulu, sebutan jomlo khusus ditujukan pada mojang (gadis) Sunda yang belum menikah meskipun sudah menginjak usia 30-an.

Hanya saja, jomlo itu tabu.

Saking tabunya, mojang Sunda yang diejek jomlo! bisa benar-benar malu, depresi, bahkan sampai ada yang bunuh diri.

Baru pada tahun 1993, seorang pelajar SMAN 3 Bandung bernama Widdi A mengenalkan istilah jomblo ke masyarakat Indonesia secara luas.

Pada rubrik “Opini Kita” majalah HAI edisi 18 Mei 1993, dia menulis tentang istilah yang lagi ngetren di Kota Kembang saat itu: jomblo.

Entah karena lebih mudah diucapkan atau lantaran majalah HAI yang sangat terkenal di kalangan anak muda, jomblo langsung viral.

Meskipun belum ada istilah viral saat itu.

Bisa jadi, Widdi A memang bukan orang yang menemukan istilah jomblo.

Tapi berkat sumbangsih dan jiwa superhero-nya, jomlo berhasil dikudeta oleh jomblo yang lebih positif dan bermakna luas.

Sampai sekarang.

Mindset jomblo

Di awal tadi, saya sudah bilang kalau jomblo adalah pondasi dasar dari semua fase cinta.

Tapi anehnya, banyak orang yang menganggap fase ini sebagai hal negatif, seolah-olah jomblo adalah penyakit atau masalah hidup yang harus dihindari.

Semacam “Kucumbu Tubuh Indahku” yang harus doboikot dari Bumi Pertiwi, semacam pelakor yang mesti giperangi oleh pihak istri.

Akibatnya, pertanyaan “kok masih jomblo aja?” menjadi sangat awam di lingkungan kita.

Benar?

Masalahnya, apa iya kamu harus koar-koar ke semua orang mengapa kamu masih jomblo?

Ga juga, kan?

Kalau mau serius menelaah, sebenarnya, fase jomblo itu ada dua:

  • Pra-hubungan (situasi dimana kamu belum pernah menjalin hubungan).
  • Akibat dari perpisahan.

Tapi entah bagaimana awalnya, ujug-ujug semua orang mengaitkan jomblo dengan hubungan.

Katanya, jomblo adalah orang yang sendirian. Orang yang tidak punya pasangan.

Secara harfiah sih benar…

Hanya saja, secara tidak langsung, anggapan semacam itu memunculkan mindset (pola pikir) yang membuat jomblo dipahami sebagai situasi buruk yang TANPA pasangan.

Jadi wajar sih kalau akhirnya kamu merasa ragu, kesepian, dan ada semacam kekosongan di hati. Pokoknya galau.

Jelas itu bukan salahmu. Bukan pula salah wajahmu yang belum terkontaminasi oleh kenyalnya plastik made in Korea Selatan itu.

Itu terjadi karena pola pikir yang salah tadi, yang parahnya, sudah mendarah daging dan diajarkan turun temurun. Dari generasi ke generasi.

Benar, homo sapiens memang makhluk sosial yang berhak punya pasangan. Tapi bukan berarti jomblo itu negatif.

Sebaliknya, fase ini bisa menjadi saat-saat terbaik dalam hidupmu.

Karena begini…

Untuk bisa membangun hubungan romantis, kamu harus menjaga independensi (kebebasan). Kamu harus memahami diri sendiri sebelum memahami orang lain.

Alih-alih tanpa pasangan, jomblo harus dipahami sebagai kesempatan untuk:

  • Memahami diri sendiri.
  • Menemukan jati diri.
  • Menentukan tujuan hidup.
  • Dan membangun kepercayaan diri.

Bukan malah sedih dan mengeluh:

  • Kok aku masih jomblo aja sih?”
  • “Gimana caranya ya biar aku cepet punya pacar?”
  • “Hiks, kayaknya emang udah takdirku ga punya pasangan…”

Dengan tanpa pasangan, kamu akan lebih mudah memahami diri sendiri, menemukan jati diri, menentukan tujuan hidup, dan membangun rasa percaya diri.

(Justru kalau kamu sudah punya pasangan, kamu akan susah melakukan keempatnya karena kamu terlalu sibuk memikirkan pasanganmu).

Serius.

Hebatnya, empat hal tadi adalah modal bagus untuk mencari pasangan yang sesuai harapan.

Kamu jadi tak perlu lagi memilih asal-asalan.

Setelah bisa memahami dan menemukan jati diri, kamu akan tahu orang seperti apa yang pantas mendampingimu.

Setelah berhasil menentukan tujuan hidup, kamu akan paham orang seperti apa yang layak membantu mewujudkan tujuan itu.

Dan dengan kepercayaan diri, kamu tidak akan pernah minder mendekati siapa pun.

Secara tidak sadar, kamu akan punya standar sendiri. Meskipun, ya… tidak terlalu tinggi.

Beda cerita kalau kamu terus mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Kamu, hanya akan menjadi orang kesekian yang asal-asalan memilih pasangan.

Yang penting punya pacar.

Akhirnya seperti yang saya bilang tadi: jadian… putus… jadian… putus… begitu terus.

Ingat, kamu selalu menjadi orang paling penting di dunia.

Kamu tidak akan memberi cinta, kebaikan dan energi pada orang lain kecuali kamu telah mampu memenuhi kebutuhanmu sendiri.

Ini bukan pernyataan egois.

Selama kamu melakukannya dengan integritas, kesadaran dan cinta, memprioritaskan diri sendiri itu baik.

Dan, hubungan yang kamu jalani nanti akan jauh lebih baik lagi. Siapa pun nanti yang akan jadi pasanganmu, dia akan selalu mendukungmu. Pokoknya “manut wae lah”.

Dari situ, hubungan jangka panjang nan luar biasa akan terbangun dengan sendirinya.

Intinya, dengan mindset jomblo yang benar, kamu akan mampu memilih pasangan dengan cara yang benar.

Ibarat makan mie instan, kalau kamu sudah paham apa definisi dari instan, kamu tidak akan membuang waktu, tenaga, pikiran, dan kuota untuk googling dengan kata kunci mubazir seperti “cara masak mie instan ala Korea.”

Repot, Mas Karjo… repot!

Selamat masak mie instan. Eh, selamat ngejomblo dengan baik dan benar.

Saya Amanes Marsoum, salam.