qencani_move_on

Move on: “Setelah semuanya, kini aku benar-benar telah melupakanmu”

Setelah move on ini, semoga ketika nanti Tuhan mengijinkan kita bertemu lagi, kita telah sama-sama bangga dengan apa yang kita bawa: cinta sejati

Sekali lagi aku tekankan, kini aku benar-benar telah move on dan melupakanmu.

Tapi sebelum dari semuanya, maafkan aku karena telah mencoba mengingatmu lagi. Tapi sungguh, ini bukan karena aku masih rindu atau mengharap cintamu lagi.

Aku berusaha keras mencari jejak-jejak kenangan di hati karena aku ingin menulis sebuah pengakuan, yang aku yakin bisa melegakan hatimu dan orang-orang yang bernasip sama seperti kita.

Cinta kita remuk di tengah jalan.

Aku tahu itu.

Aku juga masih ingat betul hari pertama kita bertemu yang berlanjut pada kesepakatan untuk melangkah bersama dalam bimbingan cinta. Saat itu aku benar-benar bahagia dan berdoa semoga kita akan selamanya.

Tapi Tuhan selalu punya rencana yang kadang melebihi logika manusia. Dan sayangnya, rencana yang di luar dugaan itu harus menjadi takdir kita.

Hari-hari pertama setelah berpisah, memaafkanmu adalah pekerjaan rumah paling membosankan

Lebih parah, aku selalu menyalahkanmu.

Entah siapa yang sebenarnya salah, tapi kita terlanjur senang saling merasa benar. Pertengkaran yang diselipi kata-kata kotor membuat kita semakin berlawan arah.

Akhirnya, perpisahan menjadi keinginan yang paling kita harapkan setelah dulu mati-matian memperjuangkan cinta.

Kita berpisah dalam diam, tak ada kalimat terakhir atau yang semacamnya.

Setelah itu…

Aku tak bisa langsung melupakanmu. Jujur, aku tak bisa sekejam itu. Kenangan-kenangan indah yang kita lalui jauh lebih terbayang ketimbang satu jam pertengkaran kita.

Dengan semua kenangan itu, aku punya banyak alasan untuk tidak memaafkanmu.

Aku pikir, aku punya hak untuk memaksamu melakukan apa yang seharusnya kita lakukan demi hubungan kita. Demi masa depan kita. Demi cinta kita.

Namun setelah cukup lama tak menerima kabar darimu, aku mulai paham kalau kamu juga punya hak yang sama untuk tidak melanjutkan hubungan kita.

Ketika akhirnya aku bisa melupakanmu, aku sadar kalau cinta tidak pernah memaksa

Akhirnya aku paham dan menerima, bahwa hubungan yang aku dan kamu banggakan dulu tidak akan pernah menjadi cinta.

Sepaham-pahamnya kamu tentang cinta, aku masih lebih paham bahwa cinta yang sebenarnya adalah ketika kita hidup bersama dan bahagia.

Tapi kita tidak pernah menjadi seperti itu, apa yang kita berdua lakukan tidak lebih dari pencarian cinta.

Aku juga mengerti kalau cinta tidak butuh paksaan. Aku menjadi orang yang paling salah andai saat itu aku memaksamu untuk terus bersamaku tanpa melihat ketidakbisaanmu.

Sampai di sini, aku sudah bisa menerima kesendirianku.

Aku sangat bahagia seperti ini: menata hati agar layak disinggahi siapa pun yang menawarkan cinta untukku nanti.

Untuk kamu, terima kasih karena telah memberi pengalaman terpahit dalam hidupku. Pengalaman yang membuatku lebih berhati-hati membuka hati.

Aku janji, aku tidak akan lagi menerima cinta semudah yang pernah aku lakukan padamu dulu, karena aku telah paham dan mengerti cinta jauh lebih baik daripada kamu.

Bila saatnya aku memeluk cinta sejatiku, aku harap kamu telah move on dan bahagia bersama kekasih terakhirmu

Tuhan tidak akan menciptakan apa pun untuk hal yang sia-sia.

Meskipun harus dilupakan, kenangan indah bersamamu adalah jalan terbaik yang pernah kulewati.

Karena setelah mengenal dan meninggalkanmu (atau kamu yang meninggalkanku? Entahlah…), hatiku menjadi terlalu kuat untuk bisa dihancurkan oleh masalah cinta serumit apa pun.

Kini aku telah ikhlas memaafkanmu. Kini aku telah bahagia bisa melupakanmu.

Aku juga telah menghapus namamu dari hatiku, sebuah nama yang asing untuk aku ucapkan sekarang.

Semoga kamu melakukan hal yang sama sepertiku. Move on.

Semoga ketika nanti Tuhan mengijinkan kita bertemu lagi, kita telah sama-sama bangga dengan apa yang kita bawa: cinta sejati.

Kita bisa bercanda tanpa melibatkan perasaan, tanpa mempermasalahkan apa yang pernah kita lakukan, dulu…

Saya Amanes Marsoum, salam.