qencani_nikah_muda

Di saat wanita suka sekali nikah muda, apa kabar para pria?

Hegemoni nikah muda sepertinya akan terus berlanjut sampai naskah-naskah sinetron penuh dalil berubah sedikit lebih lucu ala Marvel

Sejak Prima Entertainment menggarap sinetron Pernikahan Dini, yang kemudian tayang perdana di RCTI pada Sabtu malam, 16 Juni 2001, frasa nikah muda mendadak viral di kalangan anak muda saat itu.

Saat itu, Agnes Mo Monica benar-benar sedang mempertontonkan keranuman haqiqi seorang gadis idaman. Di sisi lain, Sahrul Gunawan adalah contoh tak terelakkan dari pria tampan di era 2000-an.

Ketika keduanya disatu-padukan dalam naskah sinetron yang masih lebih masuk akal ketimbang naskah-naskah penuh dalil seperti sekarang, sangat wajar kalau share penayangannya meningkat tajam.

Sama tajamnya dengan peningkatan jumlah pernikahan dini para pemirsannya.

Oke… jalan cerita Pernikahan Dini telah tuntas di akhir tahun 2002, Agnes Monica telah bosan dengan nama belakangnya, dan Sahrul Gunawan telah hidup bahagia bersama Indriani Hadi.

Tapi, sayangnya, hegemoni nikah muda sepertinya akan terus berlanjut sampai naskah-naskah sinetron penuh dalil berubah sedikit lebih lucu ala Marvel atau film-film dari Negeri Gajah Putih Thailand.

Hingga detik ini, wabah nikah muda benar-benar sangat memprihatinkan. Terkhusus bagi kaum Hawa.

Karena faktanya, banyak dedek-dedek manis yang melepas status lajang di usia remaja hingga kepala tiga, atau tepatnya, di usia 18-30 tahun. Angka ini, dua kali lebih sadis dibanding prestasi pria.

Ini buktinya:

Menengok fenomena absurb di atas, yang kemudian jadi pertanyaan pelik adalah: “pada ngapain sih kaum Adam pada rentang usia itu? Apa mereka buta dengan indahnya kisah asmara Dini-Gunawan yang melegenda itu?”

Menurut analisa saya yang pemerhati bola ini, setidaknya ada dua alasan paling masuk akal:

  1. Di usia 18-30 tahun, mayoritas pria masih suka misuh-misuh di PUBG, stalking mantan, atau sibuk belajar selfie. Mereka benar-benar khusuk menikmati masa kanak-kanak tahap ll.
  2. Kemungkinan lain, mereka sedang giat-giatnya bekerja dan menabung agar bisa menikahi pacarnya tahun depan, atau dua tahun ke depan, atau tiga tahun ke depan, dan seterusnya.

Sekarang mari kita beredel dua asumsi di atas.

Pria golongan pertama, jelas, tidak cocok dijadikan calon suami idaman, atau setidaknya belum. Sementara itu, pejantan tipe kedua yang mau kerja keras bahkan sebelum nikah itu, saya jamin sudah tidak lagi berstatus jomblo. Kalau pun ada, populasinya sangat minoritas.

Sampai di sini, kita masih akan dipusingkan lagi dengan satu pertanyaan mendasar yang tak kalah bikin perut lapar, yaitu:

“Lantas siapa dong pria-pria yang menikahi dedek-dedek manis usia 18-30 tahun itu?”

Lagi-lagi, menurut analisa saya, kemungkinan jawabannya ada lima:

  1. Pria yang masih suka nge-game, tak punya modal, tapi kebelet kawin (kawin ya… bukan nikah) dan pacarnya setuju-setuju saja karena terlanjur cinta mati.
  2. Pria muda pekerja keras yang sudah punya cukup modal untuk menikahi pacarnya. Sayangnya, pria seberuntung ini persentasenya juga kecil.
  3. Pria yang di usia 18-30 tahun masih suka nge-game, jalan-jalan, atau belajar selfie, tapi mau mengubah sikap, perilaku, dan jalan hidup setelah menginjak usia 31.
  4. Suami yang kebelet poligami dan Alhamdulillah disetujui oleh pihak istri.
  5. Duda yang terobsesi pada siswi SMA atau mahasiswi semester akhir.

Nikah muda dan rejeki yang ditimbulkan

Well, pada akhirnya, kenikmatan surgawi dari menikah di usia muda memang sangat menggoda keimanan kaum Hawa. Dan dogma yang mengatakan bahwa wanita cenderung lebih menyukai pria yang lebih tua memang benar adanya. Kredibilitasnya bersifat benar, membenarkan, dan dibenarkan.

Jadi tak usahlah menebar kebencian dengan hashtag #StopNikahMuda, misalnya.

Toh yang bahagia mereka, bukan kamu. Yang kemudian terbang ke langit ke-7 di malam pertama juga mereka, bukan kamu.

Para pemilik event organizer dan salon penyedia paket pernikahan pun ikut kecipratan rejekinya, kan? Itu belum termasuk bapak penghulu, jasa catering, jasa fotografi, dan jasa cuci piring yang pasti bakal kebanjiran kerjaan.

Jangan lupakan juga bagaimana bahagianya pemilik angkot yang semakin hari semakin kehabisan penumpang, yang ujug-ujug diberi mandat mengantar para tamu ke pesta pernikahan.

Yang nelangsa jelas cuma kamu.

Kamu yang tak pernah sekali pun nonton dramatisnya sinetron Pernikahan Dini, kamu yang harus jomblo lagi setelah pacarmu bilang “maaf, Beib, kamu terlalu baik buat aku…”

Saya Amanes Marsoum, salam.